Friday, September 23, 2011

Koleksi dan Etalase

Halo Etalase! Bagaimana kabarmu? Kali ini aku kembali menjumpaimu, dan kiranya, aku akan menambah bebanmu. Tapi kau masih bisa menampungnya kan? :)
Sudah agak lama aku tak membukamu. Biasanya aku hanya melihat koleksiku yang ternyata kau rawat dengan baik. Terima kasih etalase! Tapi hari ini ampaknya kau agak berantakan. Mengapa? Ayo ceritakan padaku! Siapa yang membuatmu seperti ini? Biar aku bereskan satu persatu. Dan, oh, kini aku membuka pintumu kembali! Hmmmmm... wangimu begitu khas.. Aku sangat merindukannya.. Dan coba kususun kembali agar semuanya rapi kembali.. Ahh.. Indahnya melihat koleksiku yang dulu, selalu membuatku tersenyum walau hanya mengingatnya. Aku selalu ingat, hari itu aku mengajaknya pergi. Sebelumnya kami makan di kantin sekolah. Dia membelikanku sebotol teh dingin. Kau tau? Sebotol teh dingin itu begitu berarti untukku. Aku selalu rindu, selalu menantikan botol-botol teh dingin selanjutnya dari dirinya.
Wah, lagu ini.. lagu ini.. aku takkan pernah lupa lagu ini. Who knows how long I've loved you? You know I love you still, merupakan sepenggal lirik dari lagu yang paling indah yang pernah dia nyanyikan di hadapanku diiringi dengan petikan suara gitar, jarinya sangat lihai bergantian merangkai kunci-kunci yang rumit bagiku.
Aku sangat merindukan masa-masa itu. :') Baiklah etalase, seharusnya aku tidak perlu banyak membahas setiap koleksi yang kusentuh ini. Kasihan kalau kau harus menunggu lama dirimu dibereskan. Terlalu banyak koleksiku, tak cukup waktu untuk mengenang ceritanya satu persatu.
Koleksi demi koleksiku akhirnya tersusun rapi. Indah, indah sekali. Membereskan etalase selalu menjadi moment yang indah dan begitu intim. Membawa suasana yang amat kurindukan. Baiklah, saatnya aku menyimpan koleksi terbaruku. Kau tau apa itu? Ini merupakan air mataku dan air matanya. Aku enggan bercerita tentang ini. Tapi ini merupakan hal terpenting dalam hidupku. Di setiap tetesnya berarti pelajaran-pelajaran bermakna dari Tuhan, setiap tetesnya berisi seluruh pengorbanan dan perjuangan, di setiap tetesnya berisi rasa cinta yang begitu dalam. Kuingin kau menjaganya etalase.

* * * * * * * *

Hari ini. Kali terakhirnya aku berbincang dengan etalase, dan melihat semua koleksiku.
Etalase tampaknya tak mampu menampung koleksi baru ku. Kumpulan air mataku dan air matanya ternyata terlalu banyak. Terlalu berat. Dan etalase tak mampu menopang beban seberat itu. Hancur sudah etalaseku, dan seluruh koleksi indahku. Aku hanya terdiam terpaku. Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa semua hilang dalam sekejap mata. Kini aku bersihkan sisa-sisa pecahan dari dinding kaca etalase yang pecah, rangka kayunya yang patah, dan koleksi-koleksiku yang menjadi lumpur karena bercampur basah dengan koleksi terakhirku. koleksi yang membawa petaka. Aku bisa apa sekarang? Marah? Menangis? Tertawa? Bahagia? Namun aku memilih ikhlas. Berdoa, berikhtiar, dan bertawakal. Semoga aku mendapatkan sebuah etalase baru yang mampu mengobati luka ini.

0 comments:

Post a Comment