Tuesday, July 8, 2014

Permukaan laut berwarna jingga kemerahan. Menelan matahari menuju belahan bumi yang lain agar membangunkan segenap manusia yang harus beraktivitas di pagi hari. Sementara aku mengucap selamat tinggal pada matahari dan menanti bulan yang kadang terlihat, kadang berselimut awan hitam. Sebuah hari telah berlalu lagi dan aku masih di bumi ini, masih selamat, hidup, dan bernafas. Tapi semua belum berakhir. Masih ada malam panjang yang harus kulewati dengan segala bentuk petualangan yang begitu lain dengan siang hari. Karena di malam hari tidak ada temanku, matahari. Entah mengapa, aku merasa bulan tidak terlalu membantuku. Bulan terlalu pendiam. Tidak pernah aku ingat, kapan terakhir kali aku merindukan bulan. Rasanya bulan hanya sebuah dewi malam yang menyombongkan keanggunannya dikelilingi ribuan bintang. Aku memang tidak begitu suka malam. Namun sialnya, aku adalah orang yang cukup sulit menemukan tidurku di malam hari. Aku ingin malam cepat berlalu, dan dengan tidak sabar menanti datangnya matahari untuk membelai aku yang kedinginan di malam hari.
Sialnya lagi, karena sering kali aku melewatkan malam dengan tidak tidur, sehingga aku selalu telat menyapa matahari yang selalu datang tepat waktu. Sepertinya aku selalu mengecewakan matahari, tapi toh ini bukan kisah cinta aku dan matahari. Melainkan aku dan satu hari. Aku di dalam 24 jam. Bagaimana aku bisa selamat setiap harinya. Melewati 24 jam. Setiap hari.