Tuesday, July 8, 2014

Permukaan laut berwarna jingga kemerahan. Menelan matahari menuju belahan bumi yang lain agar membangunkan segenap manusia yang harus beraktivitas di pagi hari. Sementara aku mengucap selamat tinggal pada matahari dan menanti bulan yang kadang terlihat, kadang berselimut awan hitam. Sebuah hari telah berlalu lagi dan aku masih di bumi ini, masih selamat, hidup, dan bernafas. Tapi semua belum berakhir. Masih ada malam panjang yang harus kulewati dengan segala bentuk petualangan yang begitu lain dengan siang hari. Karena di malam hari tidak ada temanku, matahari. Entah mengapa, aku merasa bulan tidak terlalu membantuku. Bulan terlalu pendiam. Tidak pernah aku ingat, kapan terakhir kali aku merindukan bulan. Rasanya bulan hanya sebuah dewi malam yang menyombongkan keanggunannya dikelilingi ribuan bintang. Aku memang tidak begitu suka malam. Namun sialnya, aku adalah orang yang cukup sulit menemukan tidurku di malam hari. Aku ingin malam cepat berlalu, dan dengan tidak sabar menanti datangnya matahari untuk membelai aku yang kedinginan di malam hari.
Sialnya lagi, karena sering kali aku melewatkan malam dengan tidak tidur, sehingga aku selalu telat menyapa matahari yang selalu datang tepat waktu. Sepertinya aku selalu mengecewakan matahari, tapi toh ini bukan kisah cinta aku dan matahari. Melainkan aku dan satu hari. Aku di dalam 24 jam. Bagaimana aku bisa selamat setiap harinya. Melewati 24 jam. Setiap hari.


Monday, June 23, 2014

Malam di Bangkok

Rindu yang diproyeksikan dengan pesan yang disampaikan langsung pada Tuhan
Meminta semesta untuk berkonspirasi mewujudkan harap
Memegang dada, merasakan degup masih ada
Memasang radar, memancarkan gelombang, menyamakan frekuensi
Inilah refleksi cita dan cinta
Hingga pada waktunya kita bertemu di hari itu
Hari yang kita nantikan

Friday, May 23, 2014

Sudah pernah saya bilang sebelumnya, jika kehidupan itu seperti bianglala, maka saya sedang menuju ke atas. Menikmati setiap panorama dari segala sudut pandang yang berbeda. Menikmati ketinggian yang kadang membuatku takut untuk jatuh. Menikmati hembusan angin yang menerpa wajah. Menikmati kedekatan dengan langit yang selalu kurasakan bahwa Tuhan ada di balik sana.

Mungkin ini yang orang bilang, apa bila itu adalah jalannya, maka segala hal akan dimudahkan. Sempat saya merasa takut. Tidak biasanya jalan yang kulewati semulus ini. Dibalik itu sempat saya bertanya-tanya. Mengapa tidak ada batuan besar yang biasanya menghalangi? Mengapa tidak ada jurang terjal yang biasanya harus kulompati? Tidak ada kubangan air kotor yang selalu kuhindari?
Tetapi rasanya kini tidaklah penting. Saya rasa yang harus saya lakukan adalah mengucap syukur. Menikmati sebuah perjalanan baru yang akan membawa cerita baru. Dan selalu berdoa agar dilindungi dan seterusnya dilancarkan serta dimudahkan.

Tuhan, saya tidak tahu kemana jalan ini mengarah. Tetapi, jalan ini sangat menyenangkan untuk saya lalui. Terima kasih telah memberikan saya kesempatan untuk mengarungi sebuah perjalanan baru. Dan saya akan tetap berlindung di dalam medan magnet-Mu.

Wednesday, April 16, 2014

Hujan tidak pernah turun sendiri
Berlomba-lomba menemui kekasihnya di bumi secara serempak
Pohon cemara yang bergoyang
Kelinci yang menari
Dan aku yang kembali tidur menghirup wangi hujan di luar
Tidakkah indah bisa bahagia bersama?

Puisi bangun tidur oleh Diza Diandra teruntuk kekasihnya di saat hujan.




(Aulia Fadil, tetap berdoa yah! Semoga segala kebaikkan selalu datang padamu)
dalam kecamuk jiwa
Mentari temukan lagi sinarnya
Dipenghujung kata yg berserakan makna-makna
Dipersimpangan Rasa yg bertaburan warna-warna

Hingga kesendirian
Berubah maya
Dan kebersamaan sejatinya nyata

Berbagi 
Berdua
Menembus dimensi jagat raya
dan kembali membawa manisnya cinta



Aulia Fadil, 2014
Untuk pacarnya yang kebanyakan tidur di saat hujan

Thursday, April 10, 2014

Apapun yang akan menjadi, aku akan berhenti bertanya. Akan kujadikan saat ini sepenuhnya untuk menangkap hangatnya cahaya matahari, meneguk tetes air hujan, dan memeluk rumput, karena saat ini aku tahu. Semesta sedang berbicara padaku.

Tuesday, April 8, 2014

Pasang semua indramu, karena semesta sedang berbisik padamu.