Tuesday, December 13, 2016

Your Happiness DOES Matter Pt. 2

Setelah kami menyusun rencana, kami memutuskan untuk naik kereta ekonomi. Oke... Ini pertama kali juga saya naik kereta ekonomi. Maklum karena belum pernah, saya banyak kecemasan macam, "Aman ga di kereta? Nanti tidurnya shift-shift-an ya biar ada yang jagain barang-barang! Tapi udah ada AC kan??". Dan sebagainya dan sebagainya. Hahaha. Kalau teman-teman dekat saya mungkin sudah hafal karakter saya. Kadang berjiwa hippies, tapi suka kaya princess, dan insecure, alhasil.. gitu deh. hahaha. Permasalahan selanjutnya yang bikin temen-temen seperjalanan ini pusing juga ketika saya berkali-kali nanya "Pake ransel apa koper ya?" Ada kali nanya hal itu 100x (ga lebay). Sampe mereka kaya udah terserah banget deh mbak, bebaskeun!

Datang juga malam itu, dimana kami berkumpul di Stasiun Kiaracondong. Sayapun memutuskan untuk pakai ransel. Keliatannya aja sih backpacker, padahal untuk 3 malem aja bawa baju 7 pasang dan bawa hair dryer. Hahaha. Singkat cerita akhirnya berangkatlah kami ke Jogja. Walau ada kebodohan karena kita salah pilih tempat duduk. Berdua-berdua sih.... Tapi.... Punggung-punggungan! -___- Perjalanan pun berlalu penuh dengan kesabaran menahan rasa pegal dan sulit tidur. Kursi di kelas ekonomi benar-benar tegak 95 derajat. Untungnya disponsori bantal leher dari Dhea yang emang udah khawatir apakah saya mampu melewati perjalanan 9 jam di kereta ekonomi??? Hahahaha.

Waktu menunjukkan pukul 4.30 shubuh. YEAY! PERTAMA KALI MENGINJAKKAN KAKI DI KOTA JOGJA! Kami pun tiba di Stasiun Lempuyangan. Sholat, cuci muka, sikat gigi, touch up, foto-foto, update instagram, dan beristirahat sejenak. Tidak lama kemudian, yang tadinya gerimis romantis, tiba-tiba hujan sadis (mencoba berima. :p). Kita mau beranjak ke hotel. Rencana awal sih, mau jalan kaki. Tapi jangan salah, jarak antara Stasiun Lempuyangan ke hotel itu kurang lebih 4,5 KM. Lumayan kan kalau jalan kaki? Sambil bawa ransel? (Yayaya buat newbie kaya sih pokonya lumayan aja. Lumayan die.) Sempat kepikiran untuk panggil uber atau grab car. Berhubung saat itu kita sok jago, keukeuh pengen jalan kaki aja. Tapi kan hujan? Oh tenang! Sebelum berangkat, saya sudah wanti-wanti ke geng untuk bawa payung semuanya. Saya pun mengeluarkan payung. Aris, Doli, dan Anne hanya saling menatap. Dikira mereka lagi jatuh cinta tatap-tatapan, taunya ga ada yang bawa payung satupun. -____- Akhirnya payung saya dipakai berdua dengan Anne. Sementara Aris dan Doli pakai jaket masing-masing. Itulah konsekuensinya pada ga bawa payung! HAHAHA.

Karena merasa bersalah, Aris dan Doli pun akan beli payung kalau kita nemu Indomaret atau Alfamart. Sesampainya di Indomaret, ada tuh payung. Tapi.. Jelek... Harganya Rp 60.000 pula. Urunglah niatan mereka beli payung dan memilih tetap memakai jaket yang udah super basah.
Perut yang masih kosong pun minta diisi. Ada kios soto yang wanginya menggugah selera. Kita akhirnya memutuskan makan di situ sekalian berteduh menunggu hujan agak reda. Baru juga memasuki kiosnya, "Maaf mas, penuh.. Paling kalau mau.. Di atas? Ndak apa-apa?". Kita langsung mengiyakan, yang penting bisa makan dan berteduh deh. Ketika kita naik ke lantai 2, betapa bahagia dan terharunya kita... Lantai 2 kosong dan  tempatnya lesehan! Untuk kami yang sudah 9 jam menahan rasa pegal, tempat itu seperti surga! Bisa makan sambil tidur-tiduran ngelurusin badan. Tapi kita minta izin juga kok, untuk ikut istirahat sambil nunggu hujan reda. Setelah kami lahap menyantap soto, kami leyeh-leyeh dan sangat-sangat bersyukur bisa beristirahat dan makan disini. Seolah-olah tempat ini memang disediakan hanya untuk kami. Allah tau banget yah kita lagi butuh selonjoran dan istirahat :)

Hujan nyatanya tak kunjung reda sementara perjalanan masih panjang. Lagi-lagi kami memutuskan untuk menerobos hujan. Tapi dasar semua memang sudah ada yang ngatur. Di tengah perjalanan, tukang becak lalu lalang menawarkan jasanya. Kami yang sok-sok-an ini menolak dengan halus. Aris pun tersadar, melihat para tukang becak mengenakan jas hujan plastik. "Seandainya punya jas hujan kaya mang becak.", pikirnya saat itu. Bagai sulap, tepat di depan kami ada toko plastik yang menjual jas hujan plastik. Kita senang bukan main! Langsung deh beli 4. Tadinya saya ga akan beli sih, tapi kalau ga seragaman kan ga asik. Harganya pun hanya Rp 5.000 satunya. Kebayang kan kalau jadi beli payung, seharga 12 biji jas hujan! Karena lagi di kota orang, YOLO aja pake jas hujan plastik warna hijau kembaran. Sepanjang kita jalan orang-orang ngeliatin. Tapi saat itu kita udah ga peduli (malu sih ada) dan jadi ketawa-ketawa sendiri karena kita emang udah kaya apalah ijo-ijo gitu. Tanpa terasa, kami akhirnya sampai di jalan malioboro yang tandanya sudah mulai dekat dengan hotel kami. 1.5 KM lagilah menurut GPS.  Oh, ini toh Malioboro. Saya lupa jam berapa, tapi saat itu masih sangat sepi. Awalnya tergoda juga naik becak. Tapi harga yang ditawarkan cukup tinggi. Herannya, semakin mendekati tempat tujuan, becak-becak yang mewarkan jasa, malah pasang harga makin tinggi. Sudahlah, lupakan becak! Tetap berjalan dengan jas hujan kresek ini. Setelah perjalanan cukup melelahkan tapi happy, sampailah kami di hotel! Tentu belum bisa check in karena masih terlalu pagi. Namun setidaknya kita bisa nitip barang bawaan dan ikut ngeringin rambut, cuci muka, ganti baju sama leyeh-leyeh di lobby. Bahkan ada bule tidur juga di sofa. Kami memutuskan untuk menunggu adzan dzuhur, sholat, lalu berangkat ke destinasi pertama: Tamansari Water Castle!

Monday, December 12, 2016

Your Happiness DOES Matter Pt.1

Hari itu semakin dekat, perasaan ini semakin cemas dengan segala pikiran yang tidak berarah. Rasanya ingin lari dari Bandung. Entah pergi kemana, saya tidak ingin berada di tempat ketika hari itu datang. Jauh-jauh hari, sebenarnya saya dan teman-teman kantor sudah merencanakan untuk pergi ke Lampung. Tapi karena satu dan lain hal, rencana itu terpaksa dibatalkan. Kecewa pasti. Saya semakin bingung kemana saya harus pergi pada hari itu. Sampai akhirnya terbesit di dalam benak, "Pada hari itu aku harus bahagia. Aku tidak boleh bersedih! Oke, tempat yang belum pernah saya kunjungi, dan sedari dulu ingin saya kunjungi banget adalah: Jogja!". Jogja? Iya, saya belum pernah kesana dan setiap saya ajak SIAPAPUN untuk ke Jogja, pasti semua menjawab, "Udah pernah ah..", "Mau ngepain emang ke Jogja?", "Jogja yaa gitu-gitu aja kok..", "Hmm. Cari tempat lain deh..". Tentu saya bisa mengerti jawaban mereka. Tapi dalam hati sebenarnya sedih juga. Keinginan ke Jogja seperti salah satu dari bucket list yang entah mengapa ingin sekali saya kunjungi.

"Ris, kalau ke Jogja sendirian aman ga sih buat cewe?", tanyaku pada teman kantorku Aris.
"Hmm. Aman sih teh. Emang, teteh mau ke Jogja sendirian?", di kantor saya memang dipanggil teteh karena teman kantor saya rata-rata di bawah saya semua umurnya. Hahaha
"Oh, aman ya. Iya kayanya weekend depan aku mau ke Jogja aja sendirian. Pokonya gamau di Bandung."
"Kenapa harus Jogja?"
"Aku belum pernah kesana. Terus, aku liat di agenda, pengen banget dateng ke Pesta Boneka. Pengen nonton Papermoon Puppet Theatre. Intinya emang dari dulu pengen ke Jogja sih. Tapi ga ada yang mau nemenin. Yaudah, sendiri aja."

Pembicaraan hari itu berakhir begitu saja. Sementara saya belum prepare apa-apa untuk ke Jogja. Baru sebuah wacana. Sempat terpikir bagaimana minta izin ke orangtua saya, tapi saya pikir lagi rasanya tidak perlu minta izin. Tinggal pergi saja. Mereka tau kok saya bisa jaga diri.

Sampai keesokan harinya, tiba-tiba Aris dengan semangat menghampiri saya.
"Teh, ayo ke Jogja!"
"He? Sama siapa? Kamu mau ikut?"
"Kemaren kan Aris sama Doli iseng-iseng tuh nyari tiket kereta. Karena emang Doli ngajak kekeretaan weekend depan. Eh, ke Jogja murah dong teh! Cuma 86.000!"
"Wah, beneran? Aku mau beli!"
"Serius nih teh, kalau mau kita langsung beli tiket aja."
"Teh Diza! Abi ikut juga ah!", Anne tiba-tiba angkat tangan sambil excited.
Sementara saya masih kebingungan. "Hah, ini beneran nih kalian pada mau ke Jogja?"
"Iya jadi deal nih ya kita berempat, Aris, Doli, Teh Diza, sama Anne. Urusan tiket mah biar sama Doli aja, ntar kita tinggal transfer ke dia."
Suasana kantor hari itu seketika menjadi ceria. Seperti biasa saya si "tukang makasih" tak henti-henti bilang makasih ke Aris, Anne, dan Doli.

Sebenarnya bagi saya yang membuat ini spesial karena... AKHIRNYA ADA YANG MAU NEMENIN KE JOGJA!!!! Huhu terima kasih ya teman-teman!

Thursday, November 24, 2016

Teruntuk sang astronot yang hilang melayang
Bagaimana kabarmu di antah berantah?
Kuharap engkau baik-baik saja menyusuri perjalanan galaksi
Sudahkah engkau melewati ribuan bintang?
Berapa meteor yang mencoba menghantam tubuhmu?
Bersyukurlah jika kamu tetap bernafas
Terkadang aku bermimpi kita bersama mengarungi perjalanan luar angkasa
Tapi kita bukan lagi kita, karena tidak ada lagi kita
Ketika aku terbangun, aku hanya dapati diriku sendiri
Aku ingin cerita kepadamu
Perjalananku saat ini sungguh menarik
Masih disini, di daratan, antara hutan dan lautan
Aku menemukan beberapa kepingan diriku yang pernah hilang
Sisanya masih misteri
Atau mungkin akan muncul sebagai kepingan-kepingan baru
Namun intinya, aku kini dalam perjalanan mencari aku
Dan bertemu beberapa aku
Aku-aku yang berkumpul, tak pernah kamu kenal sebelumnya
Jika suatu saat Tuhan Mempertemukan kita
Aku yakin kamu tidak akan mengenaliku
Karena selama ini kamu tidak pernah melihatku seutuh ini
Dan jika waktu itu datang
Biarkanlah berlalu
Sudah semestinya seperti itu
Agar semua tidak terlalu
Hanya mencoba peluang 1 dari 1 milyar
Kau akak membaca ini
Dan kau tau ini tertuju untukmu




Saturday, August 27, 2016

Tidak semua pertanyaan harus terjawab.
Akankah suatu hari nanti aku mati membawa tanya?
Tidak.
Lebih baik kuhapus semua pertanyaan itu.
Tidak semua jawaban perlu didengar.
Terkadang jawaban itu hanya aku simpan sendiri.
Akankah aku selamanya menyimpan jawaban itu?
Tidak.
Lebih baik kuhapus semua jawaban itu.
Termasuk semua rasa yang ada dan pernah ada.
Lebih baik kutinggalkan di antah berantah.
Agar tidak akan pernah kutemui lagi sampai kapanpun.
Kini aku angkat kaki dari duniamu.
Melangkah jauh menuju angkasa.
Hingga kutemukan kembali tempat untuk berpijak.
Atau terus melayang di antara peluk-Nya.
Melihatmu dari jauh.
Yang semakin lama semakin kecil.
Semakin kecil.
Hingga aku tidak dapat melihatmu lagi.
Dan semua menyatu seperti kumpulan bintang.
Berpendar tidak mau kalah.
Aku tidak tahu lagi kamu yang mana.
Aku tidak tahu lagi kamu dimana.
Yang kulihat hanya kilau yang memanjakan mata.
Aku begitu jauh.
Aku begitu sepi.
Aku begitu hampa.
Tapi kuharap, aku akan lebih dekat dengan Dia.
Karena hanya Dia yang kekal kumiliki, dan memiliki aku.

28 Agustus 2016, Balikpapan
2.11 AM, di kamar hotel, sambil mendengarkan Mata Berdebu dari Sore.

Tuesday, August 2, 2016

Bahagia Dunia dan Akhirat



Aku ingin bahagia dunia dan akhirat. 

Is it too much to ask? 

Kalau aku ingin bahagia di dunia. Apa itu akhirnya aku duniawi dan tidak memikirkan akhirat? Yang mana kehidupan akhirat padahal kekal abadi?

Kalau aku ingin bahagia di akhirat, apakah artinya kebahagiaan di dunia itu tidak penting? Karena dunia itu hanya sementara?

Tapi aku ingin dua-duanya. Bahagia dunia dan akhirat. Aku ingin menikmati segala usaha aku di dunia. Menikmati hidup aku di dunia. Berbagi kasih sayang. Menjelajahi tempat-tempat keren yang Allah Ciptakan di dunia.

Aku juga ingin masuk surga. Aku ingin menikmati segala kebaikan yang Allah Janjikan. Aku ingin bahagia selamanya.

Tapi lagi-lagi, is it too much to ask?

No.

Aku tetap ingin bahagia dunia dan akhirat.

Kebahagiaan dunia dan akhirat. Sama pentingnya. Saling berkaitan. Dan saya berhak untuk berusaha mencapai keduanya.

















Saturday, May 9, 2015

I know, I really know I got a perfect life. A perfect family, a loving friends even it’s not much, and a boyfriend. Well, this boyfriend. He carried many luggages on his back. But he never share it, he never ask help from anybody. He thinks he is strong enough, or he doesn’t care much about it. And yes, he is. He knew it’s freaking heavy, and sometimes it makes him lost. But he doesn’t really care. He doesn’t need anybody. Except God. And here I am. Like anyone says about me. They don’t see me carry many luggage on my back. When I feel exhausted, they’ll be like, “what the fuck. You just carry that little luggage! Look at me! Look at my luggages! They even look like a huge tower!”. I feel really bad about it. Yes, me and this tiny luggage. But I ALWAYS need help from everybody. If you ask me why? Man, I’m sorry. I don’t know either. This is PROBABLY because I don’t have stronger body or mind like you do. OR I don’t have bigger heart like you do. I share it to God too in case you don’t know. I’m not blaming anyone. But please, don’t blame me too. I don’t have any idea WHY. You know how envy I am to be that kind of person? The strong person with big heart? I’m trying so hard. And it’s never enough. I still ask somebody’s help. And people starts to leave me. They just keep going carry their luggages away. And go to a better place. Everyone is there already. 
So today, I realize. It’s not about how many luggage you cary, how heavy it is. It’s all about yourself. How strong and big you are. And I’m not there yet. Just go, my friend. I promise, I will try to be like you. Go and carry that away. I’m sorry for bothering you. See you again dear friend.

Friday, March 20, 2015

Blog ini sepi pengunjung. Tapi begitulah saya menyukainya. Karena seperti menulis buku harian yang tidak bergembok dan sengaja kutaruh di atas meja di dalam kamar. Mungkin hanya orang yang tau dan ingat nama blog ini yang akan mampir membaca. Hanya mereka yang ingin tahu. Dan hanya mereka yang tidak sengaja karena search "cerita horror  bokep" di google -____- Percaya ga percaya, kalau kamu search keyword itu, blog ini akan muncul. Ini dikarenakan saya pernah nulis tentang pengalaman cerita horror di lift yang berakhir konyol dan memalukan seolah-olah terjadi adegan mesra di dalam lift. Semua yang search keyword itu, dan baca postingannya, pasti menyesal udah baca. Karena ga ada bokep-bokepnya sama sekali. Hahahahahaha. Ah omong-omong bagi yang penasaran ingin membaca, boleh baca disini.

Friday, March 13, 2015


Sweetest thing. Ever.

Thursday, March 12, 2015

Ibu, thank you for giving me life. Thank you for all the pain that you suffer from gave birth. I'm sorry for any problem I've caused. I know you always love me. Even when I talk back to you. Even I've made you cry many times. For me, our family is the only reason why I still here. Why I keep struggling to make it. Sometimes I feel tired for being myself. For being not good enough. When I feel good about myself, I don't know why, there's always something brings me down. It's like I don't deserve to feel good. I don't deserve to be happy. If you read this, please don't worry about me. I'm okay. I will never stop trying and fighting. And do not ever blame yourself. Because you're the best mom in the world, you're perfect for me, you never taught me any bad things, and you always be a good rolemodel for me. Trust me. You're the best. You have the purest love and heart in the world. And I love you. You know how much I love you. You always love me even when I couldn't love myself. Please forgive me. Forgive me. I love you. You know I really love you. It's just me. My other part of me that not related to you. But I promise you, I will never give up. I will never leave you. I will try so hard even I have to sweat blood or feel this hurt. Even this is so hard for me but I'll try my best. And I will never stop. Even it hurt so much that I couldn't draw my pain. But trust me I will never leave you. Because I love you more than I love myself.

Ayah, you know I always be your little girl. Thank you for being my shield. Thank you for always protect me from anything that would harm to me. Thank you for always fight for me. Giving your time, your life, to make me happy. To give me a perfect life. To always give what I wanted. I know you also love me, because yes, I love you too. I love you and I love you. I always thinking, that one day, if there's a man will take me away from you, I will always choose you. I will never leave you. I want to be your little girl until the day I die. I don't want to go far from you. But last time you said, your life wouldn't be perfect if you never take to the the isle, and see me in wedding dress. Married someone you actually hate, because he stole my heart. But you know what? I will never give my heart to anybody. My heart is only for you. Because you are my first and last love for me. Because I know you won't break my heart. I know you will never leave me for other women. I know, that I am what you wanted. I'm the perfect girl for you. And I know you always feel lucky to have me. I know you won't hurt me. And no one can replace you. There's no one who deserves my heart except you. So I promise you. I will never leave you. I will keep going and not give up. Sometimes I want to stop, but I will always remember your faith. I will never disappoint you. And even it's really hard for me, and I don't think there's someone would marry me, but I promise. I will get marry, so your life would be perfect. I love you. DOn't worry, I'm not going anywhere.
One word could end someone's life.

Saya dan sosial media

Maafkan sudah menelantarkan blog ini begitu lamaaaa! (kayanya udah nulis ini berpuluh-puluh kali deh.....) Padahal sebenernya saya ada waktu sih untuk nulis. Tapi tapi tapi, pas buka laptop larinya malah ke Facebook, pinterest, youtube, dan buka berita-berita, artikel-artikel ga penting, dan gossip-gossip terhangat......... Padahal udah download juga aplikasi blogspot di HP. Tapi kalau megang HP, malah buka path, line, whatsapp, instagram... Yah... begitulah.... Nyatanya sosial media lebih sering saya buka dibanding blog ini.... :( maafin.

Omong-omong soal sosial media. Beberapa waktu yang lalu, saya agak bermasalah dengan sosial media. Tampaknya sosial media itu seperti pedang bermata dua bagi saya. Kaya misalnya, saya kan sekarang tinggal di Bangkok, jauh dari sahabat-sahabat, kawan-kawan, pacar, dan keluarga. Walaupun disini juga banyak temen-temen sihhhh, tapi kadang kucapek ngomong Bahasa Inggris mulu soalnya tiap ngomong harus mikir. Tiap dengerin, mikir lagi. Iya maaf da Bahasa Inggris aku emang jelek. Hahahaha. Jadi kalo kesepian, selain suka jalan-jalan sendirian, muter-muter kota, menyulam (oh ini hobby baru saya! tetep ya anaknya udah crafty banget), baca buku (jiga nu bener weh), tidur-tiduran, maka pelarian selanjutnya dari kesepian itu adalah: sosial media. Dimana saya bisa bertemu teman-teman saya yang jauh, melihat aktivitas mereka sehari-hari, liat postingan makanan yang selalu bikin pengen balik ke Indo, dan lain sebagainya. Menyenangkan. Kadang rasa kesepian itu memang berkurang. Tapi dibalik itu semua, kadang selalu saja ada yang menusuk. Ngga, temen-temen saya Alhamdulillah ga ada yang jahat ngomongin saya terang-terangan di sosmed kok, atau membully. Tapi yang menusuk itu adalah........ kehidupan orang lain yang terpampang di sosmed. Like, why their life is perfect? Si ini enak banget yah... Si itu hebat ih gaweannya udah begini... Si eta karyanya makin bagus aja.... Woh si ini mau nikah dong.... Dan si itu punya anak..... Sementara si ini asik banget jalan-jalan mulu.... Si itu tiap posting banyak banget yang respon kasih "love" atau emotikon lainnya...... Dan. Lain. Sebagainya. Wa. Pusing. Nget.

Alhasil, buka sosmed, kadang bikin anxiety kambuh. Bikin stress sendiri. Bikin insecure. Bikin depresi. Maaf ya terlihat lebay. But yeah, it happened to me :) Ujung-ujungnya jadi suka mempertanyakan sendiri, what have I done in my whole life? I don't have any job. I haven't married yet. I don't have my OWN money. I haven't achieve anything. Do my parents proud of me? Do my successful friend still want to be friend with me? Why people seems so happy with their lives?? And. I'm. Not.

WHY?

Sampai pada akhirnya, pikiran-pikiran itu bercabang dan menyedot saya ke lubang nestapa. Seolah-olah, ga ada kesempatan lagi deh untuk saya. Dan semuanya gelap. Ga punya harapan juga motivasi. Maaf ya kalau ini terdengar emo. Dan lebay. Tapi, yang pernah mengalami pasti ngerti sih. Lalu saya pun berbagi keluh kesah hal ini dengan pacar dan teman-teman saya. Point pentingnya seperti ini:

"Namanya juga dunia maya. Maya. Ngga nyata. Darimana kamu tau hidup mereka sebenarnya seperti apa. Yah bersyukur aja sama hidup kita sendiri. Yang masih diberi keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan keamanan." Begitu kata Bung Aulia Fadil.

"Sosial media itu bagus sih buat self-branding. Sisanya sih, ya gitu-gitu aja." Dan ini kata Riar.

Dan keduanya berkata, "Makanya gausah cek sosial media sering-sering..."

Yang mana itu adalah hal yang cukup sulit, karena nampaknya saya agak addicted sama sosial media apapun. Walau ga selalu aktif ngepost, tapi selalu ngecek, scrolling, "like", scrolling, "love", scrolling, scrolling, terus aja gitu.

Tapi setelah itu saya jadi beranggapan. Ok. Sosial media itu di dunia maya. Maya loh ya, ga nyata. Dan gunanya bagus buat self-branding. Kesimpulan yang saya dapat, orang-orang juga PASTI cuma ngeshare apa yang ingin mereka share. Biar apa? Ya biar orang lain tau. Kenapa orang lain harus tau? Nah ini alasannya macem-macem. Admit it, sometimes we just want to show off (ok, you can call it "share"). Either it's useful or not. Important or not. Sometimes we want to impress others (right?). Or, you just need some attention (Have you ever waiting for notification from your socmed account? Or even count how many likes or loves you get? Or how many comments? Chill, you're not alone. I have.) It doesn't mean people faking it. They just share a little part of it, and keep the rest of it. We never know, behind hundreds 'love' they got, they struggle for something really hard. When your friends share happy moment, deep down inside, they're crying. Really. We never know. At least now you know. If you saw my timeline in social media, or my post, you can envy me, I won't blame you. But let me tell you. It's useless. Because I only show you, what I want to show. I didn't tell you about my whole story or activity. I only want to impress you. I need "likes" and "loves". I want you to see me the way I want it, not the way I am. I want you to know about how happy I am. But I rarely tell you when I feel really terrible. Once again. I'm not faking it. Never. But, I only show what I want to show. And maybe, in social media, I only show 1% of my life. Don't get fooled.

(Maaf ini latian nulis Bahasa Inggris judulnya......... LOL)

Jadi sekarang kalau sirik-sirik liat postingan orang lain, atau banding2in hidup kita sama mereka, inget aja lagi hal di atas ini. Saya harap sih, ini cuma saya doang yang suka kepikiran sampe bercabang kaya gini (tapi sekarang udah ngga loh!). Dan tentunya sangat mensyukuri hidup saya yang sekarang ini. Gapapa belum punya kerjaan, Alhamdulillah masih bisa hidup nyaman biarpun biaya masih dari orang tua. Alhamdulillah orang tua masih mau mendanai. Alhamdulillah yang saya kerjakan pun positif dan pastinya akan berguna nantinya. Alhamdulillah punya teman-teman yang baik dan tentunya pacar yang baik. Alhamdulillah masih diberi kesehatan, keselamatan, kenyamanan, dan keamanan. Alhamdulillah masih bisa berkarya dan terus belajar.

Yah begitulah. Tapi saya yakin kalian pastinya lebih bijaksana memakai social media! :)

Monday, November 3, 2014

Ketika kita kecil dulu, kita seperti buku rapor yang masih bersih. Seiring bertambahnya usia, mulailah tercatat angka-angka di atas rapor. Sebagai pemula dalam hidup, kesalahan-kesalahan kita saat kecil, tidak pernah ditulis dengan tinta merah. Selalu ditulis dengan pensil, yang kemudian bisa dihapus kembali menjadi bersih dan digantikan dengan nilai yang baik. Setiap hari kita belajar di sebuah institusi yang disebut kehidupan. Setiap orang mendapatkan porsi pelajaran yang berbeda-beda juga beban ujian yang berbeda-beda. Ada yang berjuang, ada yang menyerah. Ada pula yang kehilangan arah. Ketika menuju dewasa, banyak hal baru yang ditemui. Manusia yang tidak seperti manusia, lubang-lubang hitam yang berpintukan cahaya, dan madu bunga yang beracun. Kita akan melakukan kesalahan. Mungkin tidak sekali, tapi berkali-kali. Saat itulah kita menorehkan tinta merah di atas lembar rapor. Dan mustahil bagimu untuk menghapusnya seumur hidup. Ya, saya telah menorehkan tinta merah di atas rapor saya. Rasanya saya ingin merobek lembaran itu dan membakarnya. Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan saat itu, selain tertunduk malu dan perih yang menghantam perasaan. Lalu jadilah saya manusia yang belajar lebih giat. Agar tidak lagi menorehkan tinta merah di atas rapor. Saya pun berhasil mencatat angka-angka baru di atas rapor. Namun tidak berhasil menghilangkan rasa sesal dan menerima bahwa: dalam hidupku, ada lembar merah yang merusak. Dan selamanya lembar itu ada disitu. Hal ini membuat apapun upaya yang saya lalukan, menjadi tidak berarti bagi diri saya sendiri. Saya hanya menghukum diri terus menerus. Tidak menghargai usaha saya untuk mencetak angka-angka baru. Dan pada saat ini saya sadar. Justru saya yang sekarang ini lebih baik dari saya yang dulu. Karena saya masih berjuang sampai saat ini, berhasil melewati lembaran merah. Dan apapun ujian yang akan datang, saya siap. Saya pernah gagal, tapi saya pun masih bisa bangkit. Kini yang harus saya lakukan adalah menerima. Menerima saya yang sekarang, saya yang punya lembar merah di rapornya. Dan melanjutkan belajar di institusi ini.

(Terima kasih Fadil untuk selalu mendengarkan dan menyemangati!)

Tuesday, July 8, 2014

Permukaan laut berwarna jingga kemerahan. Menelan matahari menuju belahan bumi yang lain agar membangunkan segenap manusia yang harus beraktivitas di pagi hari. Sementara aku mengucap selamat tinggal pada matahari dan menanti bulan yang kadang terlihat, kadang berselimut awan hitam. Sebuah hari telah berlalu lagi dan aku masih di bumi ini, masih selamat, hidup, dan bernafas. Tapi semua belum berakhir. Masih ada malam panjang yang harus kulewati dengan segala bentuk petualangan yang begitu lain dengan siang hari. Karena di malam hari tidak ada temanku, matahari. Entah mengapa, aku merasa bulan tidak terlalu membantuku. Bulan terlalu pendiam. Tidak pernah aku ingat, kapan terakhir kali aku merindukan bulan. Rasanya bulan hanya sebuah dewi malam yang menyombongkan keanggunannya dikelilingi ribuan bintang. Aku memang tidak begitu suka malam. Namun sialnya, aku adalah orang yang cukup sulit menemukan tidurku di malam hari. Aku ingin malam cepat berlalu, dan dengan tidak sabar menanti datangnya matahari untuk membelai aku yang kedinginan di malam hari.
Sialnya lagi, karena sering kali aku melewatkan malam dengan tidak tidur, sehingga aku selalu telat menyapa matahari yang selalu datang tepat waktu. Sepertinya aku selalu mengecewakan matahari, tapi toh ini bukan kisah cinta aku dan matahari. Melainkan aku dan satu hari. Aku di dalam 24 jam. Bagaimana aku bisa selamat setiap harinya. Melewati 24 jam. Setiap hari.


Monday, June 23, 2014

Malam di Bangkok

Rindu yang diproyeksikan dengan pesan yang disampaikan langsung pada Tuhan
Meminta semesta untuk berkonspirasi mewujudkan harap
Memegang dada, merasakan degup masih ada
Memasang radar, memancarkan gelombang, menyamakan frekuensi
Inilah refleksi cita dan cinta
Hingga pada waktunya kita bertemu di hari itu
Hari yang kita nantikan

Friday, May 23, 2014

Sudah pernah saya bilang sebelumnya, jika kehidupan itu seperti bianglala, maka saya sedang menuju ke atas. Menikmati setiap panorama dari segala sudut pandang yang berbeda. Menikmati ketinggian yang kadang membuatku takut untuk jatuh. Menikmati hembusan angin yang menerpa wajah. Menikmati kedekatan dengan langit yang selalu kurasakan bahwa Tuhan ada di balik sana.

Mungkin ini yang orang bilang, apa bila itu adalah jalannya, maka segala hal akan dimudahkan. Sempat saya merasa takut. Tidak biasanya jalan yang kulewati semulus ini. Dibalik itu sempat saya bertanya-tanya. Mengapa tidak ada batuan besar yang biasanya menghalangi? Mengapa tidak ada jurang terjal yang biasanya harus kulompati? Tidak ada kubangan air kotor yang selalu kuhindari?
Tetapi rasanya kini tidaklah penting. Saya rasa yang harus saya lakukan adalah mengucap syukur. Menikmati sebuah perjalanan baru yang akan membawa cerita baru. Dan selalu berdoa agar dilindungi dan seterusnya dilancarkan serta dimudahkan.

Tuhan, saya tidak tahu kemana jalan ini mengarah. Tetapi, jalan ini sangat menyenangkan untuk saya lalui. Terima kasih telah memberikan saya kesempatan untuk mengarungi sebuah perjalanan baru. Dan saya akan tetap berlindung di dalam medan magnet-Mu.

Wednesday, April 16, 2014

Hujan tidak pernah turun sendiri
Berlomba-lomba menemui kekasihnya di bumi secara serempak
Pohon cemara yang bergoyang
Kelinci yang menari
Dan aku yang kembali tidur menghirup wangi hujan di luar
Tidakkah indah bisa bahagia bersama?

Puisi bangun tidur oleh Diza Diandra teruntuk kekasihnya di saat hujan.




(Aulia Fadil, tetap berdoa yah! Semoga segala kebaikkan selalu datang padamu)
dalam kecamuk jiwa
Mentari temukan lagi sinarnya
Dipenghujung kata yg berserakan makna-makna
Dipersimpangan Rasa yg bertaburan warna-warna

Hingga kesendirian
Berubah maya
Dan kebersamaan sejatinya nyata

Berbagi 
Berdua
Menembus dimensi jagat raya
dan kembali membawa manisnya cinta



Aulia Fadil, 2014
Untuk pacarnya yang kebanyakan tidur di saat hujan

Thursday, April 10, 2014

Apapun yang akan menjadi, aku akan berhenti bertanya. Akan kujadikan saat ini sepenuhnya untuk menangkap hangatnya cahaya matahari, meneguk tetes air hujan, dan memeluk rumput, karena saat ini aku tahu. Semesta sedang berbicara padaku.

Tuesday, April 8, 2014

Pasang semua indramu, karena semesta sedang berbisik padamu.

Thursday, March 27, 2014

Untuk laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupku kelak

Untuk laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupku kelak
(Itupun jika aku diberi umur untuk bertemu denganmu di dunia lalu kita memutuskan untuk menikah dan direstui pula)

Aku tidak meminta maaf karena aku begini adanya
Tapi aku juga tidak meminta untuk diterima apa adanya

Ini hanyalah kekhawatiranku
Mengenai sesuatu yang bagiku sangat absurd
Pernikahan

Aku belum tahu
Menikah itu untuk apa
Ya, sebenarnaya aku tahu sih..
Hanya saja aku belum mengerti sepenuhnya
Masih banyak pertanyaan tentang apa itu pernikahan

Sekali lagi, ini adalah kekhawatiranku semata
Hanya saja, aku ingin memberi tahumu tentang kekhawatiranku...

Jangan pernah menuntut aku
Jangan pernah menuntutku untuk memasak masakan yang enak seenak masakan ibumu
Untuk membersihkan rumah hingga bersih berkilau
Untuk memijat punggungmu sepulang kau bekerja
Percayalah, kamu tidak perlu menuntutku untuk hal-hal seperti itu
Karena aku seorang perempuan, secara alamiah, natural, akan merawat dan mengurus apapun yang aku sayang, yang aku cintai
Percayalah aku akan melakukan yang terbaik, tidak perlu kau menuntut aku apapun
Aku sudah tau aku harus bagaimana
Aku tidak bodoh
Dan aku tidak menyerah untuk selalu belajar
Jangan pernah mendikte tentang apa saja yang harus aku lakukan

Jangan pernah memadamkan semangatku dalam mengejar mimpi
Tidak apa jika mimpi itu tidak tercapai, hanya saja, jangan kau padamkan semangatku
Karena mimpi akan membuat aku selalu merasa hidup
Biarlah aku tetap mengejar mimpiku
Dan selalu temani aku di sampingku
Ceritakan aku tentang mimpimu
Kita akan cari cara untuk meraih itu
Tidak perlu khawatir, aku pun tidak akan memadamkan semangatmu dengan mimpimu

Jangan culik aku dari orang tua dan teman-temanku
Buatlah aku selalu merasa dikelilingi orang-orang yang aku sayang
Buatlah aku selalu merasa dekat dengan mereka walaupun kita begitu jauh
Kirimkan sahabatku jika kamu tahu aku sangat merindukan mereka
Atau antar aku ke orang tuaku, jika aku ingin bermanja-manja menjadi seorang anak

Jadilah sebuah ensiklopedia
Atau buku bacaan yang menarik
Yang selalu ingin aku baca setiap harinya
Yang memberi banyak ilmu dan pengetahuan untukku
Yang mampu membuat otakku kaya akan wawasan
Yang membuat aku terhibur
Dan selalu tertarik denganmu
Beri tahu aku hal-hal yang belum aku ketahui
Tapi jangan pernah kamu sombong
Selalu ingat, karena aku juga buku bagimu
Aku adalah buku yang berbeda
Yang juga membawa cerita yang lain
Dan memberi tahumu hal-hal yang mungkin kamu juga belum tahu

Jangan ajak aku untuk tinggal di sangkar emasmu
Tetap biarkan aku terbang bebas
Hanya bersamamu
Ajak aku untuk melihat dunia yang begitu luas
Ajak aku  untuk menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah kita singgahi
Lalu kita akan membuat catatan perjalanan
Dan kita akan menjadi satu buah buku penuh warna

Selalu raih kebahagiaanmu
Jangan pernah kau gantungkan itu padaku
Karena kebahagiaan adalah tanggung jawab diri kita sendiri
Namun mari kita berbagi kebahagiaan itu














Dan aku berharap satu hal,
Ketika suatu saat kau membaca ini, kau terlalu malas untuk membaca
dan kau akan bilang
"Aku sudah tahu, aku tidak perlu lagi membaca postingan ini."

:))))))))



NB: Sebenernya sambil senyum-senyum nulis ini karena............... calonnya aja belum ada........ Hahahahahahaha (masukkan meme yaoming di sini)
Tapi hal ini sih, di umur segini sih.. Yang jadi bikin mikir. Dan yaaah, ini kekhawatiran pribadi seorang gadis naif yang tidak tahu apa-apa tentang pernikahan (ciyeh.....)